Scholars Gathering Bazma - I'M GREAT QUESTIONER!



“Terlalu singkat rasanya hidup ini untuk sekedar diam dan menunggu.
Sementara banyak orang diluar sana yang berusaha menjadi orang-orang hebat
dan kelak kita akan bersaing bersama mereka.
Maka, pilihlah untuk bergerak! Mengejar mimpi dan kebermanfaatan bagi semuanya”
-Ihsanudin Usman (Senior Vice President Human Capital Development PT Pertamina Persero)  

Tiga hari yang mengesankan. Tiga hari yang berasa sebulan karena kebermanfaatannya yang terasa panjang. Memang belum terlihat dengan nyata, setidaknya seusai kegiatan itu membuatku menjadi lebih bergairah dalam menjalani hidup dan semangat yang redup kembali membara.

Tidak hanya menghadirkan pembicara hebat dari petinggi PT. Pertamina Persero yang membuat kami terpukau, di acara scholars gathering Baituzzakah Pertamina (Bazma) ini saya sangat exciting ketika mendapatkan kesempatan untuk bisa membangun relasi baru bersama teman-teman dari 21 latar belakang universitas yang berbeda. Melalui mereka, saya melihat wajah Indonesia 20 tahun ke depan yang menjanjikan dan penuh kebahagiaan. Insya Allah.

Lebih jauh lagi, tingkat exciting maksimal yang saya rasakan ketika bertemu dengan alumni scholars Bazma yang sangat menginspirasi yaitu Fattah Amal Iko yang merupakan Co-Founder @tangantakterlihat sekarang beliau bekerja di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Andita Dwi S (Co-Founder @sekitarkitaid) dan Nina Yuliani (Co-Founder @kemahedukasi). Dua kakak ini juga sekarang kerja di tempat ketje, but gue lupa apa pekerjaan beliau, mohon maaf tidak bisa menyebutkan hehe. Keren banget gak sih? Mereka bisa menjadi salah serorang penggagas dan bergerak dalam komunitas kebaikan. Semoga soon as possible gue bisa ya nyusul kebaikan-kebaikan seperti yang telah mereka contohkan. Aamiin.

            Gathering sehari yang berasa sebulan ini rasanya gak akan cukup buat diceritain sehalaman dua halaman, apalagi dari A-tamat. Pada intinya kalau pun saya ceritakan dari A-tamat ya seru abis lah pokoe! Berkesan! Terkenang! Dan Ter-ter-ter-lainnya.

            Eits, tapi sejujurnya ada sedikit kekecewaan yang terpendam dalam diri pribadi. Bukan. Bukan karena gathering ini. Kekecawaan ini timbul karena saya yang telah membuatnya. Saya kecewa ketika selama acara ini entah mengapa saya belum diberikan rezeki berupa kesempatan berbicara mengeluarkan ide dan pandangan. Saya menyadari memang kesalahan ini timbul karena saya lah yang membuatnya, saya yang menunda-nunda memberanikan diri mengangkat tangan. Sekalinya berani, eh tetap saja belum terpilih hehe. Huft I don’t know why, jangan dicontoh ya. tapi ke-pengecutan-an ini memberikan cambuk tersendiri bagi saya agar kedepannya tidak melakukan hal serupa. Insya Allah. Doain yak!

            Nah, because of kesempatan itu belum hinggap, daripada ide itu lenyap oleh waktu, saya ingin menuliskannya barangkali bisa terwujud atau sepahit-pahitnya bisa menjadi catatan sejarah yang bermanfaat untuk para pembaca pada masanya kelak nanti.

            Pertama kali pas “gatel” banget mau ngomong itu pas lagi sesi brainstorming yang dikomandoi oleh tiga kakak ketje  yang udah gue ceritain diatas. Tiga kaka ketje ini bertugas untuk memanaskan pikiran peserta dengan  bahan bakar awal  pengalaman yang mereka miliki, dan tema brainstorming kali ini berubungan dengan tema yang diusung pada gathering ini sendiri yaitu “Gerak Kita”. Pada intinya mereka ingin mendengar, sudahkah kita bergerak untuk sekeliling kita? Apakah kita memiliki kontribusi paling tidak dalam segi ide yang belum terwujud dan memiliki peluang untuk diwujudkan?

            Tiga puluh menit berlalu, keadaan mulai memanas dan memaksa gue untuk berpikir, “Apa kontribusi gue untuk Gerak Kita?”. Terlintas dalam benak, ide yang akhir-akhir ini muncul disebakan keresahan pada pemandangan pergaulan remaja. Iya, aku sedih. Pemandangan itu, pemandangan yang menjadi tontonan sehari-hari ketika aku pulang kuliah. Melihat mereka mengenakan seragam putih-abu-abu dan putih-biru berkumpul bersama, menghabiskan waktu-entah apakah ada sedikit kebermanafaatan disana? Yang ku lihat hanya batang putih yang dihisap dengan nikmat dan dikeluarkan dengan asap yang menyesakkan. Mirisnya, kadang ku lihat mereka tidak hanya sore hari, namun pagi dan siang hari pun sesekali terlihat. Lantas kapan mereka sekolah?  Dan hal lain yang membuat hatiku pilu adalah beberapa wanita berkerudung minimalis pun ikut bergabung ditengah-tengah gerombolan laki-laki itu. Bagiku ini adalah sebuah bencana.

            Pemandangan sosial ini ku dapatkan tidak hanya di lingkungan tempat aku ngekos di Dramaga, namun juga di sekitar rumahku, pun dengan kasus yang mirip, bedanya perkumpulan mereka hingga larut malam di sebuah kios warnet yang terletak persis di depan rumahku. Perbedaan yang lebih parah.

            Pemandangan sosial ini mengantarkan aku pada sebuah ide untuk membuat semacam “Rumah Singgah” –entah akan apa namanya, yang jelas aku menginginkan Rumah yang dapat menjadi tempat Singgah bagi Anak Baru Gede (ABG) sekitar usia 13-18 tahun. Dimana menurut pengalaman saya yang pernah melaluinya, ABG adalah fase dimana seorang anak sedang mencari jati diri dan mudah digoyahkan oleh lingkungan. Dengan Rumah Singgah ini, saya menginginkan ABG-ABG Indonesia bisa diarahkan ke dalam kegiatan positif dan mengisi waktu mereka dengan kebermanfaatan. Pemuda itu adalah asset berharga negara yang jika diarahkan kearah positif dan membangun niscaya Indonesia ini akan maju dan jaya.  


            Kedua kali pas “Gatel” lagi itu pas sesinya Pak Ihsanuddin Usman. Dalam materi yang bertemakan “Exponential Abundance, How to Grow 10x Better”, ada sesi ketika Pak Ihsan meminta kita untuk membuat tiga lingkaran dan menuliskan dalam lingkaran tersebut tiga identitas yang kita miliki. Nah aku membuat dalam lingkaran tersebut seperti ini :

Ms.B's Identity

Perintah selanjutnya adalah, Pak Ihsan meminta kepada peserta untuk menjelaskan kaitan antara tiga identitas teresebut. Yup, lagi dan lagi. Saya gagal untuk berbagi mimpi dengan teman-teman yang lain. Jangan dicontoh ya.

            Jadi, saya ingin menjelasakan kaitan tiga identitas ini di my blog aja ya heheu.

            Kaitan antar tiga identitas ini adalah saya ingin membuat perusahaan “Wedding Organizer Syar’i”, dimana tidak hanya output syar’I yang akan diberikan kepada client, namun juga dalam segi input yang diberikan kepada para pekerja. Saya ingin para pekerja bukan hanya tenaganya saja yang terpakai, lebih dari itu, nantinya pekerja dan tentu keluarganya akan diangkat pendidikannya, dan disamping itu saya ingin membangun dari segi religiusnya salah satunya mungkin dengan cara mencetak para karyawan beserta keluarganya menjadi hafidzh/hafidzah.

            Lanjut. Ketiga kali “Gatel” bangeetttttttttt-nget-nget-nget itu ketika sesi Mas Anjas dan Mas Rendi. Disini saking gatelnya gue sampe beneran angkat tangan lho untuk bertanya. Hmmzz sayangnya belum dapet kesempatan untuk bertanya kepada Mas-Mas yang masih muda ini tapi ketjenya udah kelewatan. Hehehehe. Ya-sudah-lah-ya, aku ikhlas ko Mas. Eh hehehe

            Oiya, by the way gue mau jelasin kenapa dari tadi gue pake istilah “gatel”. Istilah gatel ini gue dapet dari Bapak Ihsanudin yang ketika materi meminta kita untuk menerapkan “Ilmu Gatel”, inti ilmu ini adalah kita harus berani bertanya ketika memang ada keresahan-keresahan yang membuat kita gatel, karena  coba deh ketika kamu gatel, pasti kamu refleks akan garuk-garuk kan? Kira-kira bisa ditunda gak garuk-garuknya? Jawabannya bisa, misalnya nih lu gatel eh lagi di depan gebetan jadi gengsi buat garuk-garuk kegatelan lu, jadi lu tunda tuh garuk-garuknya. Tapi alhasil apa? Pasti dong ngerasa ada yang ga enak sama tubuh lu?! Nah begitu pula dengan penerapan “ILMU GATEL” pada proses belajar.

            Terakhir, gue mau minta maaf di sesi cerita kali ini bahasanya campur-aduk as usually heheu, kadang pake aku, kamu, gue, lu, saya. Maafin ya!
Dan, sekian.. Izin ngutip perkataan Pak Ihsanudin (lagi) :
“Tidak ada pertanyaan bodoh, yang ada jawaban bodoh.”
Semangat menjadi penanya pemberani, readers!


Salam Cinta dari Ms.B! 

(SOME OF) DOCUMENTATION SCHOLARS GATHERING BAZMA 2018

SCHOLARS BAZMA BATCH 4 IPB (MINUS INTAN)

SCHOLARS BAZMA BATCH 4 PLUS PAK SUKE

SCHOLARS BAZMA BATCH 3&4 BELUM FULL TEAM

PERJUANGAN PERJALAN MENUJU MEETING POINT ISTIQLAL

SUNSET WITH MY ROOM MATE, KAK ULFA!

IN FRAME : KAK YULI DARI PNJ

IN MOMENT WITH MY ROOM MATE, KAK WARITS!

ANYER BEACH

ANYER BEACH


ANYER BEACH


Note :
Foto ini hanya sebagian dari banyaknya foto.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Consumer Behavior Class (IKK 233)

(Lanjutan) PART 2 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta

PART 1 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta