(Lanjutan) PART 2 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta

Aku bukan anak berprestasi. Abi meninggal ketika aku sedang pekan UAS. Nilaiku anjlok.
Ibuku yang aku panggil dengan sebutan Umi pulang dengan membawa raportku dengan nilai yang jauh dari kata memuaskan. Aku ranking 20 besar dari total 32 murid di kelas.

Saat itu aku tambah sedih. Aku merasa amat bodoh. Aku merasa aku sebagai anak belum pernah bisa membahagiakan orang tua, minimal dari segi yang dapat aku lakukan saat itu yaitu meraih nilai yang memuaskan.

Aku bangkit. Mendongkrak nilaiku dengan dalih ingin membahagiakan orang tua.
Dengan usaha, kerja keras, dan tentunya doa. Ternyata aku membuktikan bahwa aku bisa. Saat itu rankingku melejit 10 tingkat dan menjadi bagian dari 10 besar.

Setan menggoda.
Saat itu aku masih dalam keyakinan bahwa menjalin hubungan dengan lawan jenis (pacaran) itu adalah hal yang tidak masalah, walaupun posisinya aku tau pacaran itu tidak boleh, namun seakan kebiasaan masyarakat sekitar dengan apa yang aku tau menjadi tercampur-adukan begitu saja dan sulit untuk menemukan yang mana benar dan salah. Dan bisa dikatakan saat itu aku ada diposisi memiliki pacar (Hmm mohon maaf ya sebenarnya aku kadang suka agak gak suka bahas ini, tapi dirasa perlu barangkali dapat menjadi pembelajaran untuk yang membaca).

Pemikiran bocah seusiaku  saat itu, “Aku punya pacar, bisa kok nilainya bagus. Hmm, berarti pacaran itu gak masalah ya.”

Hubunganku kandas.
Aku lupa banget perisisnya bagaimana cerita hubungan itu kandas wkwk. Seingetku pokoe waktu itu mau fokus belajar dulu, walaupun emang sepertinya bermula dengan permasalahan-permasalahan lainnya wkwk.

Setan menggoda (lagi)
Aku memang tidak lagi memiliki pacar. Namun, aku tetap tidak mempermasalahkan untuk dekat dengan laki-laki asalkan hanya sekedar teman.  Pengalaman berbicara, rasanya tuh tidak mungkin bila setiap hari chattingan dengan lawan jenis namun tidak ada rasa. Hmm ingat disana ada orang ketiga (setan). Haha

Aku Lulus SMP dengan Nilai yang jauh dari harapan.
Aku sangat berharap mendapatkan nilai yang menjulang. Karena saat itu, aku menginginkan untuk dapat bersekolah di sekolah impianku yang mensyaratkan nilai yang tinggi. Namun ternyata, hasil yang aku dapatkan jauh dari harapan. Nilaiku kecil. Rasanya mustahil untuk mendapat sekolah yang aku inginkan.

Allah memberiku sekolah yang aku inginkan.
Disaat aku merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan sekolah itu, Allah malah memberikan aku rezekinya dari celah yang lain. Saat itu, penerimaan murid baru SMA Negeri Jakarta memiliki jalur baru yang memungkinkan aku masuk melalui jalur tersebut. Akhirnya aku bisa bersekolah disana dengan nilaiku yang rasanya tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan sekolah tersebut. Tapi itulah skenario Allah yang indah.

Aku bertekad untuk tidak Pacaran dalam 3 tahun kedepan.
Setelah proses yang aku lalui, mendapat nilai yang mustahil untuk masuk ke sekolah impian sampai malah diberikan rezeki berupa sekolah impian itu. Aku bertekad dari sebelum aku mendapatkan sekolah impian itu untuk tidak pacaran. Bahkan, hal ini pernah aku katakan kepada Ibuku.

Pertemuan dengan DIA
Masa awal menjadi siswa baru, adalah masa awal pertemuanku dengan dia. Dia yang mungkin merupakan titik terbesar hingga akhirnya aku menemukan titik balik dalam kehidupanku.

Tekadku untuk tidak pacaran, seakan sedang diuji oleh Allah. Aku memang tidak pernah menjalani hubungan yang bernamakan “pacaran” dengan dia, namun aku merasakan saat itulah aku merasa ketidakjelasan hubungan itu melebihi hubungan pacaran.

Akhir antara AKU-DIA
Berawal dengan ketidakjelasan, berakhir pun dengan ketidakjelasan. Dia meninggalkanku begitu saja. Memutuskan semua komunikasi tanpa keterangan yang jelas.

Tidak sampai setahun ketidakjelasan hubungan itu, namun aku merasa telah melalui banyak sekali pembelajaran. Seakan Allah menunjukkan kepadaku apa yang telah Allah larang untuk mendekati zina adalah benar adanya. Membuktikan bahwa syariat Allah itu tak ada duanya.

Syukur, dulu ketika aku tidak ada batasan dengan laki-laki tetap masih memiliki malu. Terkadang aku tidak habis pikir, bagaimana orang-orang diluar sana bisa dengan mudah posting kebersamaan dengan kekasihnya (mohon maaf, bermesra-mesraan, berpegangan tangan bahkan parahnya berciuman) dengan amat mudahnya. Astaghfirullah. Saat itulah aku sangat pilu melihat pemuda-pemudi seperti itu pun sekaligus bersyukur, beruntung aku masih memiliki malu.  

SUSAH MOVE-ON
Jujur, sulit sekali untuk move on. Bukan karena cinta. Bukan. Tapi perlakuan dan apa yang telah berlalu di masa lalu amat lah tidak pernah aku sangka-sangka. Dia yang amat baik dulu, kini hilang pergi dan seakan aku sebagai wanita sangat tidak dihargai. Marah? Iya. Saat itu aku amat marah. Aku marah dengan diriku sendiri. Menyesali semua hal yang pernah terjadi. Tapi untuk apa menyesal? Tidak lah berguna ku rasa.

(Lagi-lagi) Allah Maha pengasih lagi penyayang. Kejadian yang telah aku alami, malah membukakan mata hatiku untuk bertaubat dan perlahan aku mulai mengatakan say big no pada pacaran dan hubungan yang hanya mendekati pada pacaran. Allah mengarahkan aku pada lingkungan yang mengantarkan aku kepada jalan yang membuat aku seperti sekarang. Mulai dari aktif kembali sebagai anggota rohis, sampai….. sampai titik dimana aku benar-benar menemukan hidupku sebenarnya.

Pertemuan dengan THE REAL LOVE OF MY LIFE
Semua memang bermula dari Cinta.

Karena Cintaku pada Abi, aku mulai mencoba bangkit dari kegagalanku menjadi anak berprestasi. Meskipun memang hingga sekarang prestasiku tidak seberapa.

Karena Cintaku pada Umi, aku mencoba menurunkan egoku yang dulu amat besar. Dan mencoba memahami perasaan beliau menjadi single parent.

Karena Cinta..

Aku menjadi dewasa.

Karena Cinta, Allah tumbuhkan rasa Cinta kepada yang seharusnya aku Cintai. Allah tumbuhkan rasa Cinta kepada-Nya lebih besar daripada rasa cinta yang pernah ku rasakan sebelumnya. Ini bukan Cinta sembarangan. Ini Cinta yang amat berharga. Cinta dimana tidak lagi dapat aku deskripsikan dengan kata-kata. Cinta yang membuat hidupku merasa dalam posisi ternyaman. Cinta yang memberikan aku jawaban dari semua kegundahan dalam hidupku. Cinta yang akhirnya memantapkan hatiku untuk berhijrah. Cinta yang membuat aku ingin menebar Cinta ini untuk orang lain. Aku ingin orang lain merasakan apa yang kini ku rasakan.

Masha Allah
Betapa indahnya Cinta ini,
Cinta kepada kalam-Mu, Al-Quran.

Mungkin kalian menganggap saya lebay. Tapi yakinlah, suatu saat nanti, jika kalian berada diposisi saya, apa yang saya ucapkan akan Anda benarkan. Insha Allah. Suatu saat nanti. Aamiin

Terimakasih telah menyimak!Salam,Ms.B!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Consumer Behavior Class (IKK 233)

PART 1 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta