PART 1 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta

Konon kata mbah google, definisi titik balik adalah suatu peristiwa penting yang dapat mengubah kehidupan seseorang dari situasi yang menjenuhkan kembali menemukan suntikan semangat menjalani hidup. Orang yang tidak pernah menemukan titik balik dalam kehidupannya berarti hidupnya akan statis. Kalau hidupmu masih saja sama seperti dulu yang tidak ada perubahan signifikan tentunya kearah yang jauh lebih baik, bisa dipastikan hidupmu statis. 

Saya kutip dari sebuah artikel berjudul Setiap Titik adalah Titik Balik karya Hasanudin Abdurakhman di laman Kompas.com menuliskan bahwa, “Hidup bukanlah garis-garis lurus yang panjang. Bukan seperti melepas anak panah dari busur, sekali lepas maka arahnya sudah ditentukan dan tidak dapat diubah lagi. Tidak. Hidup adalah kesempatan untuk membuat perubahan pada setiap detik yang kita lalui. Garis kehidupan kita gambar pada setiap detik itu. Kita menentukan hidup kita di masa depan dengan setiap tindakan yang kita ambil saat ini, bukan oleh hanya satu momen di masa lalu.”

Paragraf yang saya temukan pada artikel tersebut sangatlah benar, seperti apa yang telah saya lalui dalam menemukan titik balik kehidupan. Bukan hanya satu momen di masa lalu. Artinya, titik balik ditemukan melalui proses beberapa momen yang telah terlewati di masa lalu. Tentunya bukan hanya sekedar momen,  diperlukan sebuah pemikiran terbuka (open minded) dan hati yang lapang untuk mengolah momen tersebut menjadi sebuah pembelajaran yang berharga dalam kehidupan.
Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi how finally I found the turning point of my life. Bagaimana titik-titik itu akhirnya bertemu dan menemukan benang merahnya, hingga akhirnya meledak menemukan seorang Nusaibah yang menemukan kembali apa yang selama ini dicarinya.

Semua berawal dari cinta.

Saya pernah mengatakan pada diri saya, orang-orang terdekat saya dan mem-publishnya dalam Instagram story bahwa orang yang tahu bagaimana saya sebenarnya dari zaman jahiliyah sampai sekarang adalah teman-teman saya ketika zaman MTs (SMP). Kalian yang baru mengenal saya, mungkin hanya tahu bagaimana baik-baiknya saja. Maksud saya disini adalah, saya menjadi seoarang Nusaibah sekarang  karena dulu pernah mengalami menjadi seorang Nusaibah yang amat jauh dari Nusaibah sekarang. Saya yang dulu mungkin tidak se-suci seperti apa yang Anda lihat sekarang.

Ayahku meninggal secara mendadak.
Mungkin inilah awal pertama titik itu aku temukan. Ayahku yang aku panggil dengan sebutan Abi, meninggal secara mendadak. Disinilah aku merasa amat terpukul dan amat kehilangan sesosok Ayah. Kala diumurku yang sedang mengalami pubertas, 13 tahun. Disaat itu aku sangat menyesal belum bisa membahagiakan beliau dan masih sering menjadi anak yang tidak patuh, disaat itu pula adalah masa-masa terjauh aku dengan Abi karena kala itu aku merasa diriku sudah besar dan rasanya aku tidak ingin sedekat itu lagi dengan orang tua dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-teman.

Ini bukan kali pertama memang melihat sebuah momen kematian. Namun, ini adalah kali pertama dalam hidupku ditinggalkan seseorang yang amat berharga dalam hidupku, yang tidak pernah sekalipun mengecewakan aku, ibuku, dan keluargaku. Allah seakan menunjukkan kepadaku langsung bahwa itulah kematian, ia amat dekat.

Kepergian Abi memberikan pembelajaran berharga untukku. Aku menjadi lebih menghargai momen bersama orang-orang yang aku sayangi, terutama momen bersama ibu dan keluargaku. Kepergian itu membuat aku menjadi dekat dengan Umi hingga sekarang. Dan nasihat Umi yang selalu aku ingat adalah, “Solat jangan pernah ditinggal, amalan yang pertama kali dihisab adalah solat.” Dan itu yang selalu aku pegang sampai sekarang.

Aku bukan anak berprestasi. Abi meninggal ketika aku sedang pekan UAS. Nilaiku anjlok.


To Be Continued

Jangan LUPA BACA PART 2nya YA!!

Salam,

Ms.B!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Consumer Behavior Class (IKK 233)

(Lanjutan) PART 2 - The Turning Point of My Life, Semua Berawal dari Cinta